Opini: Vibe Coding Mengenai Pro dan Kontra yang Perlu Dipahami oleh Engineer
9 min read

Opini: Vibe Coding Mengenai Pro dan Kontra yang Perlu Dipahami oleh Engineer

Istilah vibe coding semakin sering digunakan di dunia software engineering. Sebagian menganggapnya sebagai simbol kreativitas dan kecepatan, sementara yang lain melihatnya sebagai penyebab kode berantakan dan sulit dirawat. Masalahnya, perdebatan ini sering terlalu hitam-putih. Padahal, seperti banyak praktik dalam engineering, vibe coding memiliki konteks di mana ia berguna, dan konteks di mana ia berbahaya. Artikel ini membahas pro dan kontra vibe coding secara teknis dan realistis, tanpa glorifikasi maupun demonisasi.

Apa yang Dimaksud dengan Vibe Coding?

Vibe coding adalah gaya menulis kode yang minim perencanaan awal, mengandalkan intuisi dan eksplorasi, fokus pada kecepatan dan hasil cepat, serta sering bersifat trial-and-error. Ini bukan metodologi resmi seperti Scrum atau TDD yang punya definisi dan langkah baku — vibe coding lebih tepat disebut cara kerja informal yang berkembang secara organik di kalangan developer, terutama seiring munculnya tool AI coding assistant yang membuat iterasi cepat jadi lebih mudah dilakukan.

Karakteristik ini membuat vibe coding terasa sangat berbeda dari pendekatan engineering konvensional yang biasanya dimulai dengan desain, diagram arsitektur, atau dokumen spesifikasi sebelum baris kode pertama ditulis. Bukan berarti salah satu pendekatan selalu lebih unggul — keduanya punya tempat masing-masing, dan memahami kapan masing-masing cocok dipakai adalah inti dari artikel ini.


PRO: Kelebihan Vibe Coding

Kecepatan Eksekusi Sangat Tinggi

Vibe coding memungkinkan engineer langsung menulis kode tanpa proses desain yang panjang, menghindari overthinking yang sering memperlambat fase awal sebuah project, dan menghasilkan sesuatu yang “jalan” dalam waktu singkat. Kecepatan ini sangat berharga dalam konteks tertentu — proof of concept (PoC), prototyping, hackathon, atau eksperimen fitur baru yang sifatnya masih sangat awal dan belum tentu akan dilanjutkan.

Dalam skenario-skenario ini, waktu yang dihabiskan untuk merancang struktur kode yang rapi sering jadi investasi yang sia-sia, karena ada kemungkinan besar prototype tersebut akan dibuang sama sekali setelah idenya tervalidasi atau tidak.

Mendorong Eksplorasi dan Kreativitas

Tanpa batasan struktur yang ketat, engineer lebih bebas mencoba ide-ide baru, solusi yang dihasilkan tidak terikat pada pola lama yang mungkin sudah usang untuk masalah yang dihadapi, dan pendekatan ini sangat cocok untuk problem yang belum jelas bentuknya. Banyak inovasi justru lahir dari fase eksplorasi semacam ini — saat developer belum tahu pasti solusi seperti apa yang dibutuhkan, mencoba berbagai pendekatan secara cepat sering lebih produktif dibanding merancang solusi “yang benar” sejak awal padahal problemnya sendiri belum dipahami secara utuh.

Mengurangi Beban Kognitif di Awal

Perencanaan yang matang membutuhkan energi mental yang signifikan — membuat diagram arsitektur, menentukan abstraksi yang tepat, dan memikirkan berbagai edge case sebelum menulis kode sama sekali. Vibe coding menurunkan “barrier to start” ini, terutama bagi developer pemula yang belum punya pengalaman cukup untuk merancang struktur yang baik di awal, atau bagi siapa pun yang sedang belajar teknologi baru dan masih meraba-raba cara kerjanya.

Sangat Efektif untuk Learning

Bagi engineer yang sedang belajar, vibe coding memungkinkan melihat langsung efek dari perubahan kode tanpa harus memahami teori secara lengkap terlebih dahulu. Proses trial-and-error semacam ini sering mempercepat pemahaman dibanding membaca dokumentasi atau teori murni, karena feedback loop-nya jauh lebih cepat — kamu langsung tahu apakah pendekatanmu berhasil atau tidak. Selama tidak dibawa ke production, pendekatan belajar semacam ini justru sehat dan bisa dipertahankan sebagai bagian dari proses pengembangan skill.


KONTRA: Kekurangan dan Risiko Vibe Coding

Kode Sulit Dirawat (Low Maintainability)

Tanpa desain yang jelas sejak awal, struktur kode biasanya tidak konsisten, logika antar bagian bercampur tanpa pemisahan yang jelas, dan akibatnya proses refactor menjadi mahal di kemudian hari. Masalah ini biasanya baru benar-benar terasa setelah tiga hingga enam bulan berjalan, terutama saat orang lain — bukan penulis aslinya — harus membaca dan memahami kode tersebut untuk pertama kalinya. Kode yang ditulis dengan vibe coding sering “masuk akal” bagi penulisnya sendiri di momen penulisan, tapi konteks itu menghilang begitu waktu berjalan atau orang lain mencoba memahaminya dari nol.

flowchart LR
    A[Vibe coding: tulis cepat] --> B[Kode jalan, fitur selesai]
    B --> C{Waktu berjalan / orang lain membaca}
    C -- Tanpa struktur jelas --> D[Sulit dipahami & dirawat]
    C -- Dengan dokumentasi minim --> E[Konteks asli hilang]
    D --> F[Refactor jadi mahal]
    E --> F

Sulit Diskalakan

Vibe coding jarang memikirkan pertumbuhan traffic di masa depan, penambahan fitur yang mungkin diperlukan, atau skenario multi-team development di mana banyak orang bekerja di codebase yang sama secara bersamaan. Akibatnya, setiap perubahan kecil berpotensi merusak banyak hal yang tidak terduga, dan technical debt menumpuk dengan cepat — bukan karena satu keputusan besar yang salah, tapi karena akumulasi banyak keputusan kecil yang masing-masing terasa wajar di momentnya.

Rentan Bug dan Edge Case

Karena fokus utamanya adalah “yang penting jalan”, penanganan error sering diabaikan, edge case tidak benar-benar dipikirkan secara sistematis, dan testing biasanya minim atau bahkan tidak ada sama sekali. Risiko semacam ini sangat berbahaya kalau diterapkan di sistem production yang menangani data atau transaksi nyata — bug yang lolos karena edge case tidak terpikir bisa berakibat jauh lebih serius dibanding sekadar prototype yang gagal jalan saat demo.

Tidak Cocok untuk Kerja Tim

Dalam konteks tim, setiap orang punya “vibe” atau preferensi gaya kerja yang berbeda-beda, tidak ada standar yang jelas yang disepakati bersama, dan akibatnya code review menjadi sulit dilakukan secara konsisten — reviewer tidak punya acuan yang jelas untuk menilai apakah pendekatan yang dipakai sudah sesuai atau belum. Konsekuensi jangka panjangnya meliputi konflik antar engineer karena perbedaan preferensi yang tidak terselesaikan, proses onboarding yang melambat karena tidak ada pola yang konsisten untuk dipelajari, dan knowledge yang terfragmentasi karena setiap orang punya pemahaman berbeda tentang bagaimana sistem seharusnya bekerja.

Membentuk Kebiasaan Buruk Jika Tidak Dikontrol

Kalau terlalu sering dilakukan tanpa kesadaran tentang trade-off-nya, engineer bisa terbiasa untuk tidak berpikir tentang desain sama sekali, menjadi sulit menjelaskan reasoning di balik keputusan teknis yang diambil, dan terlalu bergantung pada trial-and-error sebagai satu-satunya cara menyelesaikan masalah. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini bisa menghambat pertumbuhan seseorang sebagai engineer profesional, karena kemampuan merancang solusi secara sadar dan bisa dipertanggungjawabkan adalah keterampilan inti yang dibutuhkan saat menangani sistem yang lebih kompleks.

Risiko terbesar vibe coding bukan pada satu prototype yang berantakan — risiko sebenarnya muncul ketika prototype tersebut diam-diam menjadi fondasi sistem production tanpa pernah benar-benar dirancang ulang. Selalu perlakukan kode hasil vibe coding sebagai sesuatu yang sementara, kecuali ada keputusan eksplisit untuk mempertahankannya.

Perbandingan Ringkas

AspekVibe Coding
Kecepatan awal✓ Sangat cepat
Maintainability✗ Rendah
Scalability✗ Lemah
Cocok untuk learning✓ Ya
Cocok untuk production✗ Tidak
Cocok untuk tim besar✗ Tidak

Tabel ini menunjukkan pola yang konsisten: vibe coding kuat di dimensi kecepatan dan eksplorasi individual, tapi lemah di seluruh dimensi yang berhubungan dengan keberlanjutan jangka panjang dan kolaborasi. Pola inilah yang menjadi dasar untuk menentukan kapan praktik ini layak dipakai.


Kapan Vibe Coding Layak Digunakan?

Vibe coding masuk akal dipakai ketika kondisi-kondisi berikut terpenuhi:

LAYAK DIGUNAKAN jika:
  ✓ Scope kerja kecil dan bersifat sementara
  ✓ Kode memang direncanakan akan dibuang setelah dipakai
  ✓ Tujuannya eksplorasi atau belajar, bukan deliverable akhir
  ✓ Time-to-market lebih penting dibanding kualitas jangka panjang

Keempat kondisi ini punya kesamaan: semuanya menyiratkan bahwa kode yang dihasilkan tidak akan hidup lama, atau tidak akan dipertahankan dalam bentuk aslinya. Begitu salah satu asumsi ini berubah — misalnya prototype yang awalnya “akan dibuang” justru dipakai sebagai basis production — risiko yang sebelumnya bisa diterima jadi tidak relevan lagi.


Kapan Vibe Coding Harus Dihindari?

Sebaliknya, vibe coding harus dihindari ketika kondisi-kondisi berikut berlaku:

HARUS DIHINDARI jika:
  ✗ Kode akan masuk ke production
  ✗ Banyak engineer terlibat dalam codebase yang sama
  ✗ Sistem bersifat core atau critical bagi bisnis
  ✗ Ada tuntutan reliability dan security yang ketat
flowchart TD
    A{Kode akan masuk production?} -- Tidak --> B{Hanya untuk eksplorasi/belajar?}
    A -- Ya --> C[Hindari vibe coding]
    B -- Ya --> D[Vibe coding layak dipakai]
    B -- Tidak --> C
    C --> E[Gunakan pendekatan terstruktur]
    D --> F[Tetap sadar ini bersifat sementara]

Decision tree di atas merangkum cara berpikir paling sederhana: kalau jawabannya “akan masuk production” atau “melibatkan banyak orang dan sistem critical”, maka vibe coding bukan pilihan yang tepat, terlepas seberapa menarik kecepatan yang ditawarkannya di awal.


Pendekatan yang Lebih Sehat: Controlled Vibe Coding

Pendekatan ideal bukan menolak vibe coding sepenuhnya — karena manfaatnya untuk eksplorasi dan learning nyata — melainkan mengontrolnya secara sadar. Pola yang umum dipakai dalam pendekatan ini:

  1. Lakukan vibe coding di fase eksplorasi, saat problem masih belum jelas bentuknya
  2. Setelah ide tervalidasi, buang prototype yang dihasilkan
  3. Rancang ulang dengan struktur yang benar, berdasarkan pemahaman yang didapat dari fase eksplorasi
  4. Implementasikan ulang secara sadar, dengan pertimbangan maintainability dan skalabilitas

Dengan pola ini, kreativitas dan kecepatan eksplorasi tetap terjaga di fase awal, sementara kualitas kode yang akhirnya dipakai di production tetap terjamin karena dirancang ulang secara sadar, bukan sekadar memoles kode hasil eksplorasi tanpa perubahan struktural yang berarti. Langkah kedua — membuang prototype — sering jadi bagian yang paling sulit dilakukan secara disiplin, karena godaan untuk “sayang dibuang, tinggal dirapikan saja” sangat besar, padahal merapikan kode yang fondasinya tidak terstruktur sering lebih mahal dibanding menulis ulang dari awal dengan pemahaman yang sudah lebih jelas.

Sebagai ilustrasi konkret, bayangkan seorang engineer yang ingin mengeksplorasi fitur rekomendasi produk baru. Fase eksplorasi mungkin melibatkan menulis beberapa pendekatan algoritma secara cepat, mencoba berbagai library, dan melihat hasil mana yang paling masuk akal — semua dilakukan tanpa terlalu memikirkan struktur kode atau penanganan error yang rapi. Setelah pendekatan yang tepat ditemukan, barulah engineer tersebut merancang ulang implementasinya: memisahkan logika rekomendasi ke dalam modul yang jelas, menambahkan test untuk skenario utama dan edge case, serta mendokumentasikan keputusan desain yang diambil. Hasil akhirnya tetap mendapat manfaat dari kecepatan fase eksplorasi, tanpa mewariskan kerapuhan dari kode eksploratif tersebut ke production.

Pendekatan ini juga membantu menjawab kekhawatiran yang sering muncul dalam diskusi soal vibe coding: bahwa melarangnya sepenuhnya berarti kehilangan manfaat kecepatan dan kreativitas yang nyata, sementara membiarkannya tanpa kontrol berarti menumpuk risiko yang pada akhirnya harus dibayar lebih mahal. Controlled vibe coding mencoba mengambil manfaat dari kedua sisi, dengan batas yang jelas tentang kapan fase eksplorasi berakhir dan kapan disiplin engineering harus mulai diterapkan.


Ringkasan

  • Vibe coding adalah cara kerja informal — minim perencanaan, mengandalkan intuisi, fokus pada kecepatan — bukan metodologi resmi.
  • Kelebihannya: kecepatan eksekusi tinggi, mendorong eksplorasi dan kreativitas, mengurangi beban kognitif di awal, dan sangat efektif untuk learning.
  • Kekurangannya: maintainability rendah, sulit diskalakan, rentan bug dan edge case, tidak cocok untuk kerja tim, dan bisa membentuk kebiasaan buruk jika tidak dikontrol.
  • Layak dipakai untuk scope kecil, kode yang akan dibuang, tujuan eksplorasi/belajar, atau saat time-to-market lebih penting dari kualitas jangka panjang.
  • Harus dihindari untuk kode production, project dengan banyak engineer, sistem core/critical, atau yang menuntut reliability dan security.
  • Controlled vibe coding — eksplorasi bebas di awal, lalu buang dan rancang ulang secara sadar — adalah pendekatan yang menjaga kreativitas tanpa mengorbankan kualitas jangka panjang.
  • Masalah sebenarnya bukan pada vibe coding itu sendiri, melainkan pada penggunaannya di konteks yang salah — engineer profesional tahu kapan harus eksploratif dan kapan harus disiplin.

Portofolio