Vibe Coding: Pro dan Kontra yang Perlu Dipahami oleh Engineer
Istilah vibe coding semakin sering digunakan di dunia software engineering. Sebagian menganggapnya sebagai simbol kreativitas dan kecepatan, sementara yang lain melihatnya sebagai penyebab kode berantakan dan sulit dirawat.
Masalahnya, perdebatan ini sering kali terlalu hitam-putih. Padahal, seperti banyak praktik dalam engineering, vibe coding memiliki konteks di mana ia berguna, dan konteks di mana ia berbahaya.
Artikel ini membahas pro dan kontra vibe coding secara teknis dan realistis, tanpa glorifikasi maupun demonisasi.
Apa yang Dimaksud dengan Vibe Coding (Singkat)?
Vibe coding adalah gaya menulis kode yang:
- Minim perencanaan awal
- Mengandalkan intuisi dan eksplorasi
- Fokus pada kecepatan dan hasil cepat
- Sering bersifat trial-and-error
Ini bukan metodologi resmi, melainkan cara kerja informal.
PRO: Kelebihan Vibe Coding
Kecepatan Eksekusi Sangat Tinggi
Vibe coding memungkinkan engineer:
- Langsung menulis kode tanpa desain panjang
- Menghindari overthinking
- Menghasilkan sesuatu yang “jalan” dengan cepat
Cocok untuk:
- Proof of concept (PoC)
- Prototyping
- Hackathon
- Eksperimen fitur
Mendorong Eksplorasi dan Kreativitas
Tanpa batasan struktur ketat:
- Engineer bebas mencoba ide
- Solusi tidak terikat pola lama
- Cocok untuk problem yang belum jelas bentuknya
Banyak inovasi lahir dari fase eksplorasi seperti ini.
Mengurangi Beban Kognitif di Awal
Perencanaan membutuhkan energi mental:
- Membuat diagram
- Menentukan abstraksi
- Memikirkan edge case
Vibe coding menurunkan “barrier to start”, terutama:
- Untuk pemula
- Saat belajar teknologi baru
Sangat Efektif untuk Learning
Bagi engineer yang sedang belajar:
- Melihat langsung efek perubahan kode
- Trial-and-error mempercepat pemahaman
- Lebih engaging dibanding teori murni
Selama tidak dibawa ke production, ini justru sehat.
CONS: Kekurangan dan Risiko Vibe Coding
Kode Sulit Dirawat (Low Maintainability)
Tanpa desain yang jelas:
- Struktur tidak konsisten
- Logika bercampur
- Refactor menjadi mahal
Masalah ini biasanya baru muncul:
- Setelah 3–6 bulan
- Saat orang lain harus membaca kodenya
Sulit Diskalakan
Vibe coding jarang memikirkan:
- Growth traffic
- Penambahan fitur
- Multi-team development
Akibatnya:
- Setiap perubahan kecil bisa merusak banyak hal
- Technical debt menumpuk cepat
Rentan Bug dan Edge Case
Karena fokusnya “yang penting jalan”:
- Error handling sering diabaikan
- Edge case tidak terpikir
- Testing minim atau tidak ada
Risiko ini sangat berbahaya di production system.
Tidak Cocok untuk Kerja Tim
Dalam tim:
- Setiap orang punya “vibe” berbeda
- Tidak ada standar yang jelas
- Code review menjadi sulit
Akibatnya:
- Konflik antar engineer
- Onboarding lambat
- Knowledge terfragmentasi
Membentuk Kebiasaan Buruk (Jika Tidak Dikontrol)
Jika terlalu sering dilakukan:
- Engineer terbiasa tidak berpikir desain
- Sulit menjelaskan reasoning di balik kode
- Bergantung pada trial-and-error
Dalam jangka panjang, ini menghambat growth sebagai engineer profesional.
Perbandingan Ringkas
| Aspek | Vibe Coding |
|---|---|
| Kecepatan awal | ✅ Sangat cepat |
| Maintainability | ❌ Rendah |
| Scalability | ❌ Lemah |
| Cocok untuk learning | ✅ Ya |
| Cocok untuk production | ❌ Tidak |
| Cocok untuk tim besar | ❌ Tidak |
Kapan Vibe Coding Layak Digunakan?
Vibe coding masuk akal ketika:
- Scope kecil dan sementara
- Kode akan dibuang
- Tujuan eksplorasi atau belajar
- Time-to-market lebih penting dari kualitas jangka panjang
Kapan Vibe Coding Harus Dihindari?
Vibe coding harus dihindari ketika:
- Kode akan masuk production
- Banyak engineer terlibat
- Sistem bersifat core / critical
- Ada tuntutan reliability dan security
Pendekatan yang Lebih Sehat: Controlled Vibe Coding
Pendekatan ideal bukan menolak vibe coding sepenuhnya, tapi mengontrolnya:
- Vibe coding di fase eksplorasi
- Buang prototype
- Rancang ulang dengan struktur yang benar
- Implementasi ulang secara sadar
Dengan cara ini:
- Kreativitas tetap ada
- Kualitas tetap terjaga
Penutup
Vibe coding bukan musuh, tapi juga bukan solusi universal.
Masalah muncul bukan karena vibe coding, tapi karena vibe coding digunakan di konteks yang salah.
Engineer yang matang tahu:
- Kapan boleh eksploratif
- Kapan harus disiplin
Dan kemampuan membedakan dua fase ini adalah tanda engineer yang profesional.