Vibe Coding, Junior vs Senior Engineer: Ilusi Keahlian di Era AI
Munculnya AI dalam dunia software engineering mengubah banyak hal: kecepatan coding meningkat drastis, akses ke solusi semakin mudah, dan learning curve terasa lebih pendek. Namun, bersamaan dengan itu muncul satu fenomena baru:
Junior engineer terlihat seperti senior engineer — padahal belum tentu.
Fenomena ini sering berkaitan erat dengan vibe coding, terutama ketika AI menjadi alat utama dalam menulis kode.
Artikel ini membahas:
- Bagaimana vibe coding memengaruhi junior dan senior
- Kenapa junior bisa “terlihat” senior
- Risiko tersembunyi bagi tim dan organisasi
- Bagaimana menyikapinya secara sehat
Vibe Coding dan Ilusi Kompetensi
Dengan AI:
- Kode bisa terlihat rapi
- Implementasi tampak kompleks
- Fitur bisa cepat selesai
Namun, hasil akhir yang terlihat tidak selalu mencerminkan tingkat pemahaman.
Inilah yang menciptakan illusion of competence.
Bagaimana Junior Engineer Terjebak Vibe Coding
Output Cepat, Pemahaman Dangkal
Junior yang mengandalkan AI dan vibe coding sering:
- Fokus pada “kode jalan”
- Tidak memahami alasan desain
- Sulit menjelaskan trade-off
Saat ditanya:
- Kenapa pakai pendekatan ini?
- Apa dampaknya ke performa?
- Bagaimana kalau traffic naik?
Jawabannya sering tidak solid.
Tidak Terlatih Berpikir Sistem
Senior engineer berpikir:
- System boundaries
- Failure scenario
- Long-term impact
Junior yang terlalu sering vibe coding:
- Melihat problem secara lokal
- Tidak memikirkan implikasi global
- Menghindari desain upfront
Bergantung pada AI sebagai Decision Maker
Masalah utama bukan AI-nya, tapi posisi AI dalam proses berpikir.
Jika:
- AI menentukan arsitektur
- AI menentukan pola
- AI menentukan flow
Maka engineer hanya menjadi operator, bukan decision maker.
Kenapa Junior Bisa Terlihat Seperti Senior?
Kode Terlihat “Mature”
AI menghasilkan:
- Naming bagus
- Struktur rapi
- Pattern populer (repository, service, dll)
Secara visual:
“Ini kelihatan seperti kode senior”
Padahal:
- Tidak tahu kenapa pola itu dipakai
- Tidak tahu kapan pola itu salah
Review Berbasis Output, Bukan Reasoning
Di banyak tim:
- Code review fokus ke hasil
- Jarang bertanya why
- Jarang menguji pemahaman
Ini membuat junior:
- Lolos review
- Naik ke production
- Terlihat kompeten
Senior Terlalu Fokus Kecepatan
Tekanan delivery membuat:
- Senior menerima solusi AI
- Asal berfungsi dan tidak error
- Diskusi desain dikorbankan
Dalam jangka panjang, ini merugikan tim.
Bagaimana Senior Engineer Menggunakan Vibe Coding
Senior engineer juga vibe coding, tapi dengan cara berbeda.
Perbedaannya ada di kontrol dan kesadaran
| Aspek | Junior (Vibe Coding) | Senior (Controlled) |
|---|---|---|
| Tujuan | Biar cepat selesai | Eksplorasi solusi |
| Kontrol desain | Rendah | Tinggi |
| Pemahaman trade-off | Minim | Dalam |
| AI sebagai | Jawaban | Asisten |
| Hasil akhir | Dipakai langsung | Direvisi / dibuang |
Senior:
- Tahu kapan kode itu throwaway
- Tahu kapan harus refactor total
- Tahu batas eksplorasi
Dampak Buruk Jika Dibiarkan
Technical Debt Tak Terlihat
Kode AI + vibe coding:
- Terlihat rapi
- Tapi rapuh
- Sulit dikembangkan
Debt muncul belakangan, saat:
- Sistem membesar
- Tim bertambah
- Fitur makin kompleks
Junior Tidak Pernah “Naik Level”
Tanpa:
- Design discussion
- Architectural reasoning
- Failure analysis
Junior akan:
- Stagnan
- Sulit jadi senior sungguhan
- Tidak siap memimpin sistem
Senior Kehilangan Peran Mentoring
Jika senior hanya:
- Review cepat
- Approve output
Maka:
- Knowledge tidak ditransfer
- Culture engineering melemah
Solusi: Mengubah Fokus dari Output ke Reasoning
Review Bukan Hanya “Apa”, Tapi “Kenapa”
Biasakan pertanyaan:
- Kenapa struktur ini?
- Alternatifnya apa?
- Kapan solusi ini gagal?
Pisahkan Phase Eksplorasi dan Production
- Vibe coding → eksplorasi
- Structured coding → production
Jangan mencampur dua fase ini.
AI Sebagai Teaching Tool
Gunakan AI untuk:
- Membandingkan pendekatan
- Menjelaskan trade-off
- Menganalisis dampak
Bukan sebagai single source of truth.
Senior Harus Menjadi “Design Guardian”
Peran senior bukan:
- Menulis kode paling banyak
- Tapi menjaga kualitas berpikir
Senior yang baik:
- Membiarkan junior eksplorasi
- Tapi menantang reasoning-nya
Kesimpulan
Vibe coding + AI menciptakan fenomena baru:
Junior terlihat seperti senior, tapi belum tentu berpikir seperti senior.
Masalahnya bukan di AI atau vibe coding, tapi:
- Kurangnya kontrol
- Kurangnya mentoring
- Fokus berlebihan pada kecepatan
Engineer yang matang bukan yang:
- Paling cepat menulis kode, tapi yang:
- Paling sadar akan konsekuensi dari setiap keputusan teknis